RERUNTUHAN
Berapa Banyak yang Dikorbankan untuk Mempercayai Cinta yang Tumbuh di Reruntuhan Kota?
Sayang, hari ini aku ingin bercerita.
Ingin kubisikkan kisah-kisah pilu, tentang jalan-jalan yang basah oleh tangisan. Tentang mereka yang kehilangan rumah, diusir dari hidupnya, oleh janji-janji makmur yang palsu.
Ada Luka yang merintih, ada air mata yang bergulir tanpa izin. Membangunkan para penjaga mimpi, mengguncang tembok-tembok ketakutan. Mereka mungkin tak tahu, tangis itu adalah doa, meski tawa dan luka mereka sedang menari di angkasa. Di ranjang yang dingin, puisi-puisi terjatuh tanp nama. Mereka adalah saksi bagi para perayu, yang menyulam puisi dari duka, mengumpulkan serpihan dan jiwa yang retak.
Ada perempuan tua yang tak lagi punya tempat, ditarik paksa dari tanah yang ia peluk sepenuh doa, sementara peluru-peluru mengembara. Menemukan kepala, dada, dan menghukumnya yang hanya ingin bebas.
Apa arti kata adil jika harus ditebus dengan kehilangan segalanya?
Lihatlah anak anak di sudut kota, mata mereka membawa lelah yang tak seharusnya. Dipaksa melawan dunia, yang bahkan tak memberi mereka waktu untuk sekedar berhayal. Semua-muanya hanya untuk menemukan perut kosong dan berita duka. Sedang nelayan, mereka menyerahkan perahunya, dan menggadaikan ombaknya pada yang tak pernah mengenal laut. Kini laut bukan milik mereka, tapi milik tangan-tangan yang tak pernah menyesapi asinnya.
Sayang, berapa banyak yang harus kita korbankan hanya untuk menyebut diri kita manusia?
Hari ini aku ingin memelukmu seerat mungkin. Agar kau tahu bahwa cinta masih bisa menjadi jawaban, dalam dunia yang penuh luka. Biarlah kita tetap percaya pada harapan yang selalu tumbuh subur di tengah reruntuhan.
Sefia, 2024
-
-
Di tengah riuhnya kota Yogyakarta, ada ribuan luka yang lahir dan saya saksikan setiap harinya. Luka-luka itu tak mampu kusembunyikan, meskipun aku ingin. Melihat orang-orang yang kehilangan segalanya—rumah, harapan, bahkan dirinya sendiri. Mereka terpinggirkan oleh gemuruh dan gemerlap dunia perkotaan. Seakan bisa mendengar jeritan mereka yang tak pernah terdengar oleh dunia, dan tangis anak-anak kecil yang harus memikul beban yang terlalu berat untuk pundak mereka.
Di pinggiran Janti, saya sering berpapasan dengan kakek nenek pemulung, yang hidupnya tak lebih baik dari tumpukan sampah yang mereka selamatkan. Anak-anak yang dulunya penuh impian, kini mengamen di pertigaan Umbulharjo, matanya lesu, memancarkan kelelahan oleh dunia yang tak lagi memberi tempat. Seperti beban berat yang tak pernah hilang, saya merasa semakin banyak luka yang akan saya ambil, semakin banyak ketidakadilan yang kian nyata di depan mata.
Pertanyaan-pertanyaan muncul tak terhindarkan di kepala saya: "Di tengah reruntuhan kota ini, apa arti menjadi manusia jika kemanusiaan itu sendiri terus menerus diinjak-injak?" "Berapa banyak yang harus dikorbankan demi kebebasan, keadilan, atau bahkan hanya untuk bertahan hidup?" Semua ini begitu mencekam, terasa seperti malam yang tak kunjung berakhir, di mana setiap sudut kota menyimpan cerita kesedihan dan kehilangan.
Namun, di balik semua itu, satu hal yang selalu teringat, selalu menyisakan ruang di dalam hatiku: senyum yang mereka ukir meskipun wajah mereka tampak begitu lelah, begitu terluka. Senyum itu mengingatkanku pada satu konklusi yang tak bisa kuingkari: meskipun dunia ini dipenuhi duka dan luka, meskipun harapan sering kali tertutup oleh rasa pedih, cinta dan harapan tak akan pernah mati. Bahkan di tengah rasa kehilangan segalanya, cinta tetap tumbuh, meskipun rapuh. Apa yang bisa membuat kita terus berjuang melawan ketidakadilan selain cinta, jika segalanya telah dirampas dari kita? Cinta, meski sederhana, tetap menjadi kekuatan yang tak terukur. Cinta adalah segalanya, dan mungkin, hanya dengan cinta kita bisa bertahan.
Love and peace.
Komentar
Posting Komentar