SAPAAN

Halo!

Setelah sekian lama saya berkecimpung di dunia aksara, akhirnya saya meniatkan diri untuk merambah ke Blog. Berawal dari media wattpad (circa 2017-2020), lalu di twitter, sampai sekarang di instagram. Senang rasanya bisa berbagi tulisan saya kepada teman-teman untuk dibaca.  

Bait di Ujung Sengketa adalah manifesto dari kebebasan berpikir saya. Tempat dimana kata-kata bertransformasi menjadi senjata perlawanan dan refleksi saya. Di sini, akan ada rentetan tulisan tentang keresahan, pergulatan batin, pencarian makna hidup, konflik, cinta, dan keberanian. Sebuah ruang bebas di mana norma-norma dekonstruktif, otoritas, dan penindasan yang selalu saya pertanyakan. Blog ini juga bagian dari panggilan diri saya untuk meruntuhkan tembok-tembok ketakutan dan keterbatasan saya.

Bait di Ujung Sengketa juga akan mejadi cerminan perjalanan saya yang menolak untuk diam dalam dunia yang kerap membungkam. Sebuah deklarasi keberanian dalam menghadapi kerapuhan, keindahan dalam perlawanan, dan kebebasan di tengah sengketa kehidupan. Blog saya akan mengajak kalian untuk merasakan denyut kehidupan yang liar, tak terkekang dan penuh gejolak ini.  

Selain itu, blog ini akan menjadi tempat curhat saya :)) Kalau mau tau secuil cerita dari hidup saya, baca saja tulisan tulisan saya hahaha.

Intinya, selamat datang di Bait di Ujung Sengketa! -Sefia


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beragama Tanpa Berakal: Menilik Spiritualitas Rasional dari Pemikiran Spinoza, Al-Farabi, dan Ibn Rushd

Membongkar Wahabisme Lingkungan dengan Pendekatan Semiotik Roland Barthes: Kekerasan Simbolik terhadap Perlawanan Ekologis.

DARI PELINDUNG KE PENINDAS