TUBUH PEREMPUAN : KOMODITAS SERBA GUNA

 


Terkadang saya merasa, dunia seakan memberi buku pedoman yang sangat tebal dan berat bagaimana perempuan dan laki-laki "seharusnya" bertindak. Penuh dengan aturan tidak tertulis, yang bisa mempengaruhi bagaimana cara pandang seseorang. Hal paling mengusik pikiran dan hati saya adalah ketika  di jaman sekarang semakin kencangnya fenomena objektifikasi tubuh perempuan. Pelakunya entah laki-laki atau dari perempuan itu sendiri. Sebenarnya ini sudah terjadi sejak jaman nenek moyang kita, dalam masyarakat patriarkal dan kini terus berkembang dalam bentuk yang lebih kompleks.

Di berbagai ruang—iklan, media sosial, budaya, bahkan relasi personal, tubuh perempuan sering menjadi alat untuk memenuhi kepentingan ekonomi, budaya bahkan politik. Misalnya dalam iklan, perempuan sering dihadirkan bukan sebagai individu yang utuh, tetapi sebagai objek yang menarik perhatian konsumen. Di mana tubuh perempuan dijajakan dengan senyuman palsu demi menjual sebuah produk, atau tujuan tertentu. Seakan akan memanfaatkan tubuh perempuan sebagai komoditas.  Hingga pada akhirnya hanya akan menciptakan suatu standar kecantikan, dan mengisolasi perempuan yang tidak sesuai dengan standar tersebut lalu memupuk rasa ketidakpuasan diri.  Akibatnya hal ini bukan hanya sekedar soal gender semata, tapi lebih daripada itu, yaitu terkait dengan struktur kekuasaan yang lebih besar termasuk kapitalisme, patriarki dan hirearki sosial. Saya pikir dunia sangat "inovatif" hingga menemukan cara untuk menambang emas di paha, pinggul, dan wajah perempuan di sebuah paket kepentingan. 

Ini bukan sekedar perihal keuntungan dan capaian tujuan tertentu, tapi juga manifestasi dari hirearki sosial yang semakin dalam, menciptakan relasi kuasa yang timpang dimana tubuh perempuan dikontrol, dipolitisasi, bahkan diperdagangkan oleh negara, korporasi, atau norma sosial yang patriarkal baik secara fisik ataupun emosional. Sistem dimana memastikan perempuan tetap berada di bawah kontrol. Tubuh perempuan menjadi simbol penindasan ganda: sebagai komoditas ekonomi dan target kontrol sosial. Hal ini semakin diperparah oleh budaya populer yang sering kali memperkuat stereotip gender, mengurangi perempuan menjadi "hiasan" yang bergantung pada validasi laki-laki.

Objektifikasi hanya akan melahirkan stereotip yang merugikan bagi perempuan. Misalnya, perempuan yang bersikap ramah kepada lawan jenis sering kali disalahartikan sebagai "murahan" atau juga tidak bermoral. Sikap ramah yang seharusnya menjadi ekspresi kemanusiaan justru dimaknai negatif. Sering terjadi di lingkup sosial saya, dimana ketika ada perempuan yang ramah disalahartikan sebagai "gampangan" lalu dengan entengnya orang-orang melontarkan kalimat-kalimat yang seksis atau bahkan melalui tindakan. Contoh yang lain adalah misalnya perempuan yang berani melawan ketidakadilan atau menunjukkan sikap yang tegas sering kali dilabeli sebagai pembangkang atau feminis ekstrem. Ini menjadi bukti bahwa semakin sempitnya ruang yang diberikan kepada perempuan untuk bereskpresi sesuai keinginan mereka tanpa takut dihakimi. Lalu dimana posisi yang aman bagi perempuan? jawabannya sederhana : tidak ada.

Ironisnya, hal ini tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan itu sendiri. Tak sedikit perempuan, baik secara sadar atau tidak, terjebak dalam pola pikir patriarki yang mengakar. Mereka turut menghakimi sesama perempuan berdasarkan standar yang diciptakan oleh sistem tersebut. Misalnya dalam memilih cara berpakaian tertentu, seringkali kritikan keluar lebih keras oleh sesama perempuan daripada laki-laki. Fenomena ini menjadi bukti bahwa patriarki bukan hanya sebuah sistem yang menindas perempuan melalui laki-laki, tetapi juga perempuan yang sudah terinternalisasi dengan nilai nilai yang menindas mereka sendiri. 

JALAN MENUJU PEMBEBASAN

Salah satu cara untuk meruntuhkannya yaitu dengan pembebasan perempuan. Pembebasan perempuan berarti mengembalikan kendali atas tubuh dan identitas mereka kepada diri mereka sendiri. Tidak ada yang berhak menentukan bagaimana perempuan seharusnya berpakaian, bersikap, atau bertindak. Perempuan berhak menentukan jalannya sendiri tanpa takut dihakimi, baik oleh laki-laki maupun perempuan lainnya. Tentu tidak dapat dicapai jika hanya menuntut perubahan dari luar, tetapi juga harus melalui perubahan kesadaran individu.

Dengan memandang objektifikasi perempuan sebagai bagian dari masalah struktural yang besar, berarti harus ada perombakan secara menyeluruh. Bukan hanya soal menolak objektifikasi, tetapi juga menggugat sistem yang melanggengkannya. Sistem patriarki yang menjadi akar masalah ini harus dihancurkan hingga ke akarnya, termasuk nilai-nilai yang telah tertanam dalam pikiran masyarakat. Caranya adalah melawan dari akarnya, bisa saja melalui pendekatan yang berfokus pada penghapusan struktur kekuasaan, dominasi, dan eksploitasi yang menopang kapitalisme dan patriarki. 

1. Pendidikan subversif dan kesadaran kolektif

Pendekatan ini melibatkan pendidikan yang mempersenjatai individu dengan pemahaman kritis terhadap cara kapitalisme dan patriarki bekerja bersama untuk mengeksploitasi perempuan:

- Dekonstruksi ideologi dominan : tujuannya untuk membongkar norma-norma sosial yang dianggap "alamiah" seperti standar kecantikan, norma gender, dan peranan domestik yang ditanamkan oleh media, pendidikan formal, bahkan agama.
- Metode horizontal : pendekatannya melalui pendidikan yang menolak hirearki, seperti diskusi kelompok perkelompok, pembelajaran kolektif, dan pengembangan analisis bersama, dengan memastikan semua individu memiliki suara yang setara

- Kesadaran kolektif : memang fokusnya bukan hanya pada individu, tetapi juga pada pembentukan solidaritas kolektif dimana perempuan harus dapat menyadari potensi kekuatan mereka sendiri ketika berhadapan dengan sistem.

Contoh : mengadakan diskusi, lokakarya, bedah buku gratis di ruang-ruang otonom untuk membahas efek kapitalisme pada tubuh dan kehidupan perempuan, supaya bisa membangkitkan kesadaran dari masing-masing individu, sertakan juga pembahasan merancang strategi perlawanan.

2. Media alternatif

Media memang alat yang paling menjanjikan untuk menciptakan narasi yang tidak dikontrol oleh elit kapitalis ataupun patriarki. Media ini bertujuan untuk merepresentasikan perempaun secara manusiawi dan menolak objektifikasi.

- Desentralisasi media : kita bisa mendorong pembuatan media yang bebas dari kontrol korporasi, seperti blog, podcast independen, atau media online komunitas.

- Partisipasi kolektif : media alternatif bisa menjadi konter-narasi terhadap pengaruh media arus utama, mengungkap bagaimana tubuh perempuan diperdagangkan dan melawan dengan menunjukkan realitas yang beragam dan kompleks.

Contoh : membuat platform media yang menampilkan cerita perempuan dari berbagai latar belakang tanpa sensor, manipulasi dan intervensi, seperti dokumenter kolektif atau situs web komunitas.

3. Pengorganisasian komunitas

Komunitas otonom yang mandiri dan bebas dari dominasi eksternal sangatlah penting. Dalam konteksnya, pengorganisasian komunitas feminis menjadi pusat perlawanan terhadap patriarki.

- Ruang otonom : membentuk ruang-ruang yang dikelola secara mandiri oleh perempuan untuk saling berbagi pengalaman, mengorganisir aksi dan mendiskusikan ide ide perlawanan.
- Kolektivitas dan solidaritas : komunitas ini bekerja berdasarkan prinsip solidaritas dan mutual aid, dengan mendukung perempuan dalam menghadapi eksploitasi atau kekerasan.

- Tindakan langsung : kita bisa membentuk komunitas sebagai basis untuk melakukan tindakan langsung melawan kebijakan atau praktik yang menindas perempuan, baik secara lokal maupun global.

Contoh : membentuk ruang solidaritas yang menyediakan tempat perlindungan bagi korban kekerasan domestik tanpa intervensi dari manapun.

4. Aksi

Aksi bisa melibatkan perlawanan tanpa bergantung pada struktur negara atau kapitalis untuk mencapai suatu perubahan. Dalam konteks objektifikasi perempuan:

- Perlawanan kreatif : seni dapat menjadi alat untuk mengekspos atau menentang eksploitasi tubuh perempuan. Grafiti, mural, atau pertunjukan teater jalanan dapat mengungkap kekerasan simbolik yang dilakukan oleh kapitalisme dan patriarki.
- Sabotasi simbolis : Sabotasi bisa dilakukan secara langsung terhadap simbol-simbol kapitalis yang mengeksploitasi perempuan, seperti billboard yang memasarkan tubuh perempuan.
- Boikot kolektif : mendorong boikot terorganisir terhadap produk dan perusahaan yang mengeksploitasi tubuh perempuan, sekaligus mempromosikanya secara alternatif berbasis komunitas.

- Protes tanpa pemimpin : kita bia mengorganisir aksi protes yang tidak hierarkis, memastikan semua peserta memiliki suara dalam perencanaan dan pelaksanaannya.

Contoh : mengadakan festival seni feminis, yang berfokus pada kritik terhadap media arus utama, atau aksi langsung seperti penolakan simbolik terhadap iklan atau apapun yang merendahkan perempuan.

Untuk menghapus hierarki sosial dan objektifikasi perempuan tidak hanya melawan patriarki dan kapitalisme secara simbolis tetapi juga membangun sistem alternatif yang lebih setara. Dengan pendidikan subversif, media alternatif, pengorganisiran komunitas, dan aksi langsung, perubahan struktural dapat dimulai dari bawah, menciptakan masyarakat yang menghormati martabat setiap individu. Dalam masyarakat yang benar-benar egaliter, tubuh perempuan tidak akan menjadi alat eksploitasi atau kontrol. Setiap perempuan berhak untuk menentukan kebebasan tubuh dan hidupnya masing-masing. Mari kita sobek narasi lama, bangun narasi baru dan ingat perempuan bukan komoditas pun tubuh mereka bukan alat. 

Tidak ada pembebasan sejati tanpa pembebasan bagi perempuan, dan tidak ada keadilan sejati tanpa penghancuran hierarki yang menindas. Sudah waktunya kita semua bersikap terhadap praktik dan nilai-nilai patriarki yang mengakar, serta bersama-sama membangun masyarakat yang lebih adil dan setara - Sefia

#PerempuanMelawan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beragama Tanpa Berakal: Menilik Spiritualitas Rasional dari Pemikiran Spinoza, Al-Farabi, dan Ibn Rushd

Membongkar Wahabisme Lingkungan dengan Pendekatan Semiotik Roland Barthes: Kekerasan Simbolik terhadap Perlawanan Ekologis.

DARI PELINDUNG KE PENINDAS