Merdeka dari Indonesia atau Merdeka dari Segala Bentuk Penindasan

Saya melakukan apa yang saya lakukan, dan menulis apa yang saya tulis, tanpa menghitung apa yang bernilai ada dan seterusnya. Untungnya saya bukan seorang bankir atau akuntan. Saya merasa ada saatnya pernyataan politik perlu dibuat dan saya membuatnya - Arundhati Roy
-
-

Gerakan Free West Papua telah lama menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme modern yang dilakukan oleh negara. Sejarah panjang penindasan, eksploitasi sumber daya alam, dan kekerasan terhadap rakyat Papua semakin memperjelas bahwa gerakan ini bukan hanya soal memisahkan diri dari Indonesia, tetapi juga membebaskan diri dari sistem kapitalisme global dan imperialisme yang terus menghisap mereka.

Sejak awal aneksasi Papua ke dalam wilayah Indonesia melalui PEPERA 1969, rakyat Papua tidak pernah benar-benaar diberi hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Proses yang seharusnya menjadi referendum demokratis ternyata hanya diikuti oleh 1.026 perwakilan yang terpilih dan diintimidasi oleh militer. Dengan adanya ancaman dan tekan tersebut, hasil PEPERA menjadi alat legalisasi pencaplokan Papua ke dalam Indonesia tanpa persetujuan rakyatnya secara luas.

Papua adalah salah satu wilayah terkaya di dunia dalam hal sumber daya alam, namun ironisnya rakyatnya adalah salah satu kelompok termiskin di Indonesia. Freeport McMoRan, perusahaan tambang raksasa asal Amerika Serikat, telah mengeksploitasi temas dan tembaga Papua selama puluhan tahun, menghasilkan keuntungan miliaran dolar setiap tahunnya. Sementara itu rakyat Papua hanya mendapatkan limbah, kerusakan lingkungan, dan pennggusuran dari tanah leluhur yang selama ini mereka pertahankan. Tidak hanya Freeport, berbagai perusahaan sawit dan kayu juga secara agresif menghancurkan hutan Papua dengan dalih pembangunan ekonomi. Kekayaan Papua terus mengalir ke Jakarta dan negara-negara asing, sementara rakyat Papua kehilangan akses terhadap tanah mereka sendiri. Ini adalah bentuk kolonialisme modern yang melibatkan negara, dan juga korporasi global yang melihat Papua sebagai ladang eksploitasi tanpa batas.

Namun meskipun gerakan ini memiliki tujuan yang jelas, yaitu kemerdekaan dari Indonesia, ada resiko besar bahwa perjuangan ini bisa ditunggangi oleh kepentingan asing. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan Inggris menunjukkan minat dalam mendukung kemerdekaan Papua. Bukan kaena alasan moral, tetapi mereka melihat Papua sebagai wilayah strategis di Pasifik dan memiliki kepentingan besar dalam akses terhadap sumber daya alamnya. Tanpa strategi yang jelas untuk menjaga kedaulatan ekonomi dan politik pasca-kemerdekaan, Papua bisa saja berakhir menjadi negara boneka yang tetap melayani kepentingan asing. Substansinya adalah bukan hanya berhenti pada memisahkan diri dari Indonesia, tetapi juga harus menolak dominasi kapitalisme dan imperialisme global.

Daripada hanya mengganti satu bentuk penjajahan dengan bentuk lainnya, solusi sejati bagi Papua adalah membangun sistem otonomi rakyat. Kemerdekaan Papua bukan hanya soal mendirikan negara baru, tetapi memastikan bahwa rakyat Papua benar-benar berdaulat atas tanah dan kehidupannya sendiri. Solusi sejati bukanlah mengganti bendera, tetapi membangun sistem ekonomi rakyat yang tidak tunduk pada negara kapitalis manapun. Papua memiliki struktur sosial adat yang kuat yang telah bertahan sebelum kolonialisme masuk. Inilah sistem yang harus diperkuat, bukan digantikan dengan pemerintahan sentralistik yang rentan korupsi dan manipulasi. Selain itu, Papua harus mengembangkan ekonomi berbasis kebutuhan masyarakat, bukan profit. Kekayaan alam tidak boleh jatuh ke tangan perusahaan asing atau elite politik, tetapi harus dikelola oleh rakyat sendiri dengan sistem ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan kolektif. Papua tidak boleh menjadi ladang eksploitasi bagi siapapun—baik Jakarta maupun kekuatan ekonomi global.

REFERENDUM ATAU REVOLUSI SOSIAL?
Salah satu tuntutan utama dalam perjuangan Papua adalah referendum yang sah dan asil, dimana rakyat Papua benar-benar bisa menentukan nasib mereka sendiri tanpa tekanan militer dan politik. Namun, sejarah menunjukkan bahwa referendum sering menjadi alat manipulasi jika tidak dikawal oleh gerakan yang kuat. Jika referendum dilakukan tanpa kesiapan ekonomi dan sosial yang matang, Papua bisa saja jatuh ke dalam jebakan kepentingan asing yang baru untuk kesekian kalinya. 

Karena itu, pendekatan yang lebih radikal adalah revolusi sosial. Dimana rakyat Papua secara kolektif mengambil alih kendali atas tanah, sumber daya, dan sistem pemerintahan mereka sendiri tanpa menunggu pengakuan dari lembaga internasional yang sering kali berpihak pada kekuatan ekonomi global.

Papua harus mereka, bukan hanya dari Indonesia, tetapi daari segala sistem yang mengeksploitasi kehidupan mereka selama ini. Kemerdekaan sejati bukan hanya soal memiliki negara sendiri, tetapi juga soal memiliki kontrol penuh atas tanah, kehidupan, dan masa depan rakyatnya. Perjuangan ini tidak boleh berhenti pada batas-batas politik semata, tetapi harus menjadi perlawanan total terhadap seluruh sistem yang menindas rakyat Papua selama berpuluh tahun. Papua harus bebas! Bukan hanya sebagai sebuah negara, tetapi sebagai sebuah masyarakat yang benar-benar berdaulat. Pilihannya hanya hidup merdeka atau mati di perjuangan.

#FreeWestPapua

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beragama Tanpa Berakal: Menilik Spiritualitas Rasional dari Pemikiran Spinoza, Al-Farabi, dan Ibn Rushd

Membongkar Wahabisme Lingkungan dengan Pendekatan Semiotik Roland Barthes: Kekerasan Simbolik terhadap Perlawanan Ekologis.

DARI PELINDUNG KE PENINDAS